beranda-brigaspad
Dalam hal ini, brigadista mencoba membawa sebuah perenungan yang dilakukan paskibra Brigaspad ini kepada para pembaca sekalian. Bukan bermaksud melakukan judgment atas RUU ini, karena tetap saja keputusan ditangan para pembaca sekalian.
Sebagai perumpamaan, saya yakin semua pembaca setuju, narkoba berbahaya bagi kita.
tapi bukankah saat menggunakan narkoba, pencandu narkoba merasa happy dan senang? kenapa harus dilarang? dengan kompak kita akan akibatnya akan datang nanti,...
Bagaimana dengan anak-anak yang menonton pertunjukan yang mempertontonkan erotisme dan sensualitas? adakah akibatnya nanti?
walau mungkin berbeda esensi, namun pada dasarnya hal tersebut adalah sama. Sebuah akibat dari sebuah perbuatan.
Sekali lagi ini bukanlah sebuah judgment. Brigadista hanya mencoba mengangkat sebuah perenungan permasalahan yang jarang diangkat dalam pembahasan RUU ini. Hal yang dimaksud adalah terbentuknya sebuah karakter generasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. karakter yang terbentuk atas generasi bangsa ini.
Dari sekian banyaknya permasalahan bangsa ini, brigadista menangkap bahwa sumber permasalahan bangsa bukan dari banyaknya pengangguran, meningginya tingkat kemiskinan atau banyaknya pejabat yang korup. Apa yang Brigadista sebutkan baru saja hanyalah sebuah ekses dari sebuah karakter buruk atau bisa di bilang mentalitas moral yang rendah. Sebut saja seorang Pejabat Korup, sangat mustahil jika gaji dia kurang mencukupi, tapi mengapa harus korup? Cukup tidaknya sebuah gaji bukan tergantung dari banyaknya jumlah melainkan bagaimana memanage jumlah itu sendiri. Lalu apa yang salah?
Pengangguran? apakah lapangan pekerjaan sedikit? kalau kita hanya membatasi pekerjaan itu dengan menjadi PNS atau pegawai sebuah perusahaan, tentu saja kurang.
Yang Brigadista maksud disini, bukankah harunya jika tidak ada pekerjaan, ya kita ciptakan pekerjaan itu. Bukan kapasitas brigadista untuk mencari pihak mana yang telah mendidik generasi bangsa ini menjadi generasi "babu" bukan generasi "tuan".
Kembali kepada RUU Pornoaksi dan Pornografi. Kalau mau sedikit flasback dari sekitar 1998, Brigadista mungkin sanggup membayangkan (walau mungkin tak sanggup menerima) apa yang akan terjadi 10 tahun atau 20 tahun yang akan datang. Dari mulai munculnya sebuah tabloid yang cover dan isinya "menjual" perempuan setengah telanjang, beberapa bulan kemudian muncul berita di televisi, beberapa anak SMP memperkosa seorang pelajar SD, kebetulankah? Kemudian kita masih ingat ketika sebuah stasiun televisi swasta menayangkan acara smackdown yang notabene bukan budaya kita, beberapa bulan kemudian timbul kasus meninggalnya anak anak akibat menirukan gaya smackdown ini, contonya reza dibandung pada november 2006.
Jika pemerintah terutama pemimpin kita mempunyai akhlak yang baik, sementara rakyat yang kreatif dan mandiri didukung akhlak yang baik, niscaya negara ini akan menjadi sebuah surga di bumi.
Pertanyaannya adalah apakah kita harus mengobati jika kita bisa mencegahnya!!
Terkadang kita mengumpat seorang pejabat yang korup, tapi kita tak menyadari bahwa kita telah mengorupsi harta paling berharga generasi kita sendiri, yaitu moral dan akhlak.
Terkadang kita mengumpat seorang maling yang mengambil harta benda kita, tapi tanpa sadar kita telah mengambil dan menyembunyikan nilai nilai kebaikan dari generasi kita sendiri.
Terkadang kita katakan seorang pembunuh adalah keji, tapi bukankah kejam jika kita memberikan warisan budaya yang disebut kebebasan tak bermoral.
"Tidak ada orang mati saat meminum racun, tetapi dia mati setelah minum racun"
beberapa kata diatas brigadista cuplik dari kata-kata anggota brigaspad saat diskusi mengenai RUU Pornografi dan Pornoaksi. Walau memang ada yang berkomentar sedikit unik:
"kalau saya menolak RUU Pornoaksi dan Pornografi, soalnya kalau RUU itu disahkan, saya nggak bisa ngelihat pantat goyang lagi dong".
Paskibra Berkomentar
Paskibra Ku Paskib Mu
beranda-brigaspad
seiring dengan perkembangannya, dimana antara keduanya memiliki keterkaitan walaupun jelas merupakan organisasi yang berbeda. Memiliki kegiatan utama yang sama yaitu mengibarkan bendera.selain itu perbedaan lainnya adalah anggota Paskibra mungkin adalah anggota Paskibraka, tetapi tidak sebaliknya.
Paskibra (beberapa wilayah menyebut Paskibra Sekolah), mempunyai kegiatan yang lebih variatif,baik dalam latihanataupun kegiatan rutin, hal ini dikarenakan banyaknya event yang diselenggarakan dan juga terutama karena eksistensi-nya sebagai salah satu organisasi ekstrakurikuler.
Hingga sampai saat ini telah banyak penamaan lain dari organisasi paskibra ini, antara lain, paskara, brigaspad, pasus, pasbara, bripara, pisus, paskhas dan lain lain
Hal yang sangat mendasar adalah bahwa akitifis Paskibra dan Paskibraka bukan hanya sekumpulan pelajar dan generasi muda yang pandai berbaris dan melakukan fariasi formasi, melainkan juga kader kader bangsa yang terdidik yang mempunyai patriotisme dan loyalitas tinggi.
inilah generasi harapan Paskibraku paskibramu, majulah negeriku

